JANGAN BIARKAN GEMPA MERENGGUT CERIAMU (DI TEEJAY TRAUMA ITU TERTANGGALKAN)
Sabtu, 16 Desember 2017 (Ba'da Dzuhur)
Malam itu, tanggal 15 Desember 2017,
jam 23.56. Kami sekeluarga terguncang
oleh guncangan yang tak biasa. Getaran
gempa yang menyerupai jungkat-jungkit dengan kecepatan tinggi. Segala yang berada diatas seolah turun dan
menimpa apa saja di bawahnya dan tiba-tiba bruuuuggg!
Aku segera meraih anakku yang
dibangunkan ayahnya. Kami keluar sampil
berdzikir apa saja yang kami ingat.
Lampu mati membuat suasana makin mencekam.
‘Ya Rabb seandainya Engkau berkehendak
meratakan apa yang ada di punggung bumi, maka semua yang ada milikMu jua,’ batinku berserah pasrah.
Yang aku pikirkan bagaimana
keselamatan santri dan santriwati yang ada di asrama. Tangisan mulai terdengar disela getaran yang
masih berlangsung dalam 10-15 detik perkiraanku.
“Jangan panik, segera turun.” Aku dan suami berteriak dari tanah lapang
memanggil santri wati.
Getaran sama sekali tidak terasa
setelah 20 detik. Aku dan suami
memastikan bahwa anak-anak semuanya selamat.
Kami turun ke asrama ikhwan. Ternyata suara keras yang terdengar tadi
adalah runtuhan limas Masjid Alkautsar.
Masjid yang menjadi pusat kegiatan santri dan santriwati.
Tetangga yang pria wanita, anak-anak
dan orang tua semua keluar.
“Masjid runtuh….masjid
runtuh…….. Ada yang tertidur di dalam
nggak?” Suamiku memberi kabar sekaligus
menanyakan keadaan santri.
“Sedang di absen, Ustadz.” Seorang pengurus MST(OSIS) ikhwan segera
mengabsen santri dan Alhamdulillah semua lengkap.
Suasana kembali tenang. Kami kembali pada posisi masing-masing pas
pukul satu dini hari. Akhwat tidur di
mushola lantai terbawah, sementara ikhwan di kamar masing-masing.
***
Sabtu
pagi, santriwati Diniyah Abu Bakar Shiddiq menerima rapot. Pukul sepuluh pagi anak-anak yang menamakan
diri mereka sebagai Ilutsamejik sudah stand
by di depan rumah. Mereka sudah siap
dengan tas punggung mereka. Sabar
menanti sampai rapat di kantor tempat mengajarku selesai.
Jam
sebelas rapat usai. Aku segera menemui
Ilutsamejik. Sebuah nama yang unik, singkatan dari Ipah, Lulu, Tsana, Meta dan
Jiyan keren. Di wajah mereka masih ada
sisa kecemasan akibat gempa semalam.
Sedikit
tentang Ilutsamejik, mereka adalah lima sekawan, anggota Dinniyah dan Taman
Baca Abu Bakar. Anak-anak yang paling responsif dengan kegiatan Diniyah ini
secara otomatis memiliki nama sendiri.
Kegiatan Literasi, baca bersama, menulis review, sanggar menganyam dan
menginap untuk qiyamullail. Semoga
kelompok yang mereka buat tidak mengarah pada genkisme. Sulit buat
mencegah hal yang serba alami ini.
“Ibu
jadi nggak hari ini kita ke TeeJay?” Mereka bertanya hampir berbarengan. Memecahkan lamunanku tentang
Ilutsamejik. Aku tidak segera menjawab.
“Sini
masuk rumah, kita kumpul dulu ya?” Kami
duduk berkeliling di ruang depan yang hanya berhampar karpet kedap air warna
abu-abu.
“Berapa
tabungan yang sudah kalian kumpulkan?”
“Tujuh
ratus lima puluh ribu, Bu,” jawab Tsana
sebagai bendahara kelompok.
Menurut
pengakuan mereka, semua musrni disisihkan dari uang jajan. Dalam dua bulan
rata-rata mereka menabung 150 ribu. Sebuah perjuangan yang cukup berat untuk
anak seusia mereka. Tujuh puluh lima ribu perbulan. Rata-rata perhari mereka mengurangi jajan
1500 atau 2000 rupiah.
Pelan-pelan
kukatakan pada mereka, bahwa kondisi di pesantren sedang prihatin. Atap asrama belum bisa dibetulkan dan
sekarang atap masjid menyusul. Ada
pertentangan dalam batinku. Antara
bagaimana membuat mereka paham dan kekhawatiran bila mereka kecewa.
“Ibu
bukannya mengingkari janji, tapi bagaimana pendapat kalian tentang masjid
kita? Sekarang banyak membutuhkan uang
untuk renovasi segera. Ibu ada ide
bagaimana kalau uang tabungan kalian dipakai menyumbang masjid aja?”
Mereka
hanya diam dan mengekspresikan rasa cemas dan kecewa. Kutatap wajah anak-anak
itu satu persatu. Terbayang bagaimana
pengorbanan mereka menahan diri mengurangi jajan mereka.
“Oh
iya Ibu ingat, coba Lulu ambilkan brosur lomba menulis tempat wisata di tas
Ibu.”
Aku
ingat ada lomba tentang destinasi wisata yang diadakan oleh Gramedia. Rasanya ada harapan dan solusi tanpa
membiarkan Ilutsamejik kecewa.
Rencananya pengalaman berwisata di TeeJay akan kutulis dan aku sertakan
dalam lomba itu. Kalau menang hadiahnya
akan kusalurkan ke Masjid kami yang roboh.
“Oke….kalau
begitu kita berangkat.”
Mereka
bersorak riang mendengar keputusanku.
“Eh
ada lini lagi…!!! Ada lini lagi….!!!,” Tiba-tiba Meta berdiri dan lari keluar. Sepertinya guncangan semalam menyisakan
trauma di hati kami, terutama anak-anak.
Sebagian
anak-anak ikut keluar, sebagian tetap duduk, tidak merasa ada goncangan.
“Bukan,
ini bukan gempa tapi suara mobil besar tuh dari jalan raya. Jadi kayak ada getaran.” Tsana menjelaskan pendapatnya. Dilanjutkan suara tertawa renyah khas
anak-anak. Aku makin semangat membawa
mereka ke TeeJay, semoga mengurangi trauma yang cukum mengganggu psikis
anak-anak.
***
Perjalanan dari Rancak-Neglasari-Salawu
menuju TeeJay memakan waktu lebih dari satu jam. Jarak melalui jalan umum
sekitar 36 km. Kami berangkat jam 13.00
sampai jam 14.10.
Sesampai di depan gedung yang unik
bertuliskan TeeJay, anak-anak tidak tahan ingin segera mencoba semua wahana air
yang disediakan. Senyuman mereka
mengembang tulus, seakan menghapus bekas rasa cemas dan takut.
Gedung
unik untuk wahana air terindah di Kota Tasikmalaya ini mengundang rasa penasaran
siapapun yang melaluinya. Dengan luas
2,8 hektar TeeJay dapat menampung 1500 pengunjang.
Dari depan,
arsitekturnya cukup unik. Bagian kiri gedung dua lantai berbentuk
trapesium. Ada teralis besi tegak yang melapisi dindingnya. Di balik teralis itu biasanya di pajang
tanaman hias yang diperjualbelikan.
Masuk dengan
menaiki tangga TeeJay yang dibagi tiga bagian. Kanan kirinya berupa
tangga lebar. Sedangkan bagian tengah jalan miring bukan berupa tangga. Tepat
di tengah beranda
TeeJay, patung Ganesa seolah tersenyum dan mengucapkan selamat datang. Sebelah
kanannya, prasasti peresmian oleh Walikota Tasikmalaya, H. Syarif Hidayat.
Bagian sisi kanan terdapat aquarium besar, sayangnya aquarium itu dibiarkan
kosong. Bagian
kiri kita ada loket tiket masuk. Lantai dua menjadi kantor administrasi.
Kelihatan nyaman dan rapi. Lantai dua di bagian kanan terdapat foodcourt
yang asyik untuk dinikmati selepas bermain wahana air.
Membayar
tiket untuk tujuh orang dan satu gazebo yang disewakan, aku merogoh kocek 310.000. Empat puluh ribu untuk tiket masuk per orang
dan 30.000 untuk sewa gazebo atau saung.
Harga weekend Sabtu-Minggu, lebih mahal 10 ribu untuk tiket dan
gazebo. Jadi, kalau Senin sanpai Jum’at
harga tiket 30.000 dan sewa gazebo 20.000.
"Ibu, ayo
kita masuk..." Jiyan tak sabar memanggilku. Aku baru sadar, terlalu
asyik mengamati sekelilingku.
Kami pun masuk ke dalam. Bersyukur masih ada wahana air yang memperkenalkan kami berenang dengan pakaian lengkap dan berhijab. Yang lebih asyik lagi bekal makan minum tidak ditahan oleh pemeriksa tiket.
Kami pun masuk ke dalam. Bersyukur masih ada wahana air yang memperkenalkan kami berenang dengan pakaian lengkap dan berhijab. Yang lebih asyik lagi bekal makan minum tidak ditahan oleh pemeriksa tiket.
“Ibu, kita ke
saung yang mana?” Ipah bergegas
mendahului yang lain. Nampaknya ia ingin
segera melepas bekalan yang menggelayuti punggungnya.
Aku menunjuk saung
yang masih kosong. Ada lebih dari
sepuluh saung yang berjejer yang sebagian sudah terisi.
“Bunda, di sini
saja saungnya nyaman. Teduh, banyak
pohonnya, pemandangannya juga bagus.”
Suamiku memberi saran.
"Ayah ini bukan gazebo. Tempatnya sempit cukup untuk duduk saja. Apa nggak sebaiknya di bawah dekat kolam ombak?"
Akhirnya aku setuju
saja, soalnya beliaulah yang akan
menunggu kami di saung ini sementara kami berkeliling menikmati wahana air. Yang penting beliaunya nyaman.
Kami meletakkan
semua bekalan dan berpamitan meninggalkan suamiku yang langsung asyik tenggelam
dengan bahan bacaan yang dibawanya.
“Ibu, ngapain dulu
kita ya?” Ipah yang awalnya paling semangat sedikit kebingunga.
“Pokoknya sewa ban
dululah. Takut kehabisan,” saran Lulu
langsung diiakan oleh yang lain.
Kami pun menuju
tempat sewa ban. Mereka memilih ban yang
mereka suka. Ban besar seharga 50.000 per ban dan yang kecil 25.000.
“Aku sama jiyan,”
kata Meta. Dua anak ini memang sangat
karib.
“Aku sendiri aja.” Ipah langsung memutuskan hal yang berpotensi
menjadi masalah seandainya semua anak ingin berpasangan. Aku sendiri memilih mendampingi mereka tanpa ikut
mencebu diri ke waterpark, sambil mengambil gambar sana sini.
“Yuk kita ke kolam ombak.” Tsana mengajak teman-temannya. Aku senang melihat kekompakan mereka. Tak tersisa kecemasan dan trauma yang
membekas dalam keceriaan mereka.
Memang mereka kids jaman now....masih sempat selfi sebelum menikati wahana. Ciiis!!!
Ada enam tipe ombak berbeda di kolam
ombak ini. Ketinggiannya bisa sampai 170
cm, cukup mendebarkan, namun memberi sensasi
rasa yang membuat rindu penikmatnya.
"Ibu, aku takut jatuh, ombaknya makin tinggi " Mereka berteriak dengan berbagai ekspresi takut sambil tertawa lepas. "Cengkeram aja pegangan di bannya. Kalian nggak akan jatuh." Aku memberi saran dari tepi wahana.
Puas sepuluh menit menikmati kolam ombak, anak-anak memilih wahana papan
luncur. Mereka jinjing ban sewaan itu ke wahana lain yang tak kalah
mendebarkan. Tiga papan luncur dengan bentuk dan ketinggian yang berbeda
mereka coba semua. Papan luncur tertinggi berwarna merah. Pangkalnya dari lantai lima menara. Yang kedua papan kuning dari lantai empat dan yang paling pendek berwarna hijau.
"Ayo Ibu, kita meluncur!! Enak banget Bu....!!!! Aaaah.......!!!" Dan "Byurr!! Teriakan silih berganti memanggilku diselingi suara kecipak air yang menceriakan mereka.
Setiap kali mereka ingin meluncur, mereka berputar dan menaiki menara.
Limabelas menit mereka menikmati wahana ini. Selanjutnya, dengan ban pelampungnya, mereka menyusuri aliran air menuju wahana lain. Seolah menyusuri sungai dengan air biru nan jernih. Di kanan kirinya ditumbuhi pohon tanaman hias menghijau yang makin membuat mata tercuci bersih.
Sebenarnya aku sangat ingin menikmati keindahan dan sensasi rasa berada di wahana air. Tapi bagaimana dengan kamera dan gambar yang harus aku ambil. Ahh....lain kali aku bisa kesini khusus buat berhibur bukan buat mengambil gambar persiapan blog competition.
Selesai melewati tiga wahana, saatnya mereka meminta edisi selfie. Memasuki terowongan, menikmati hujan buatan, berpose diantara lubang-lubang air mancur. Terakhir mereka berenang sampai puas.
Tertunai sudah janjiku membawa mereka ke TeeJay yang selalu bikin kangen. Edisi selfie mereka nikmati begitu ceria. Trauma itu tertanggal semua di sini.
Lebih asyik lagi..... setelah berbasah-basahan, menikmati mie rebus panas dan pedas di foodcourt, kami melanjutkan perjalanan ke Gramedia Book Store. Hibernasi yang sempurna.
Lebih asyik lagi..... setelah berbasah-basahan, menikmati mie rebus panas dan pedas di foodcourt, kami melanjutkan perjalanan ke Gramedia Book Store. Hibernasi yang sempurna.













Komentar
Posting Komentar