Gempa Jum'at Minggu Terakhir Rabiul Awal

Jum'at, 15 Desember 2017

Malam hari pukul 10.15 aku terbangun selepas tidur ba'da Isya.  Berbicara sebentar dengan suami sebelum bergantian, beliau istirahat dan aku....seperti biasa melanjutkan pekerjaan

"Abi, saudara-saudara kita di Palestina 24 jam berada dalam suasana mencekam.  Kalau kita mah palingan pas ada kejadian alam.  Seperti gempa, angin besar kemarin, hujan yang terlalu lebat."

"Betul. Mi, makanya kita harus banyak mendoakan saudara kita sesama muslim, jangan lupa doa jihad tiap habis sholat."

Abi tertidur selepas kami berbincang dan aku kembali berada di depan laptop, menulis di blog, facebook atau apa saja.

Kira-kira jam sebelas lewat 39 menit, tiba-tiba lampu mati. Innalillahi aku nggak bisa ngelanjutin browsing sambil dengerin ceramah ustadz youtube favoritku.  Alhamdulillah nggak berapa lama lampu hidup kembali.

Mungkin sepuluh menit setelah itu aku merasakan guncangan lumayan keras.
"Masya Alloh....Masya Alloh Bi.....gempa-gempa bangun!!!"

Abi langsung bangun dan membangunkan anak kami yang tidur di kamarnya.

"Muyasar gempa-gempa. Allohuakbar...Allohuakbar..."

Kami terus berdzikir apasaja sambil memohon keselamatan dariNya.

'Ya...Rabb kalaulah Engkau mau meratakan ini semua, hamba pasrah ya Rabb, langit bimi dan apa yang ada diantara keduanya adalah milikMu.' Aku membatin

Tertatih aku dan anak kami, Muyasar menuju tanah lapang.  Memanggil santri akhwat untuk turun.  Jerit tangis santriwati mulai terdengar disela-sela suara reruntuhan entah apa yang jatuh dan tiba-tiba "Bruuug!!!!"

"Mi, ada yang jatuh!" kata anakku

"Entahlah Dik, yang penting kita ke lapang dulu."

Kami sampai ke lapang sambil menenangkan akhwat yang terisak-isak.

"Tenang-tenang jangan panik, ke lapangan sini!!!" Aku berteriak dari arah lapang untuk menenangkan anak-anak.

Tiga puluh detik kemudian keadaan pun mulai tenang.  Tetangga-tetanga keluar dari rumah.

"Bu, masjid ambruk!" kata Bu Yani teman dan tetangga baikku

Aku, Abi dan Muyasar meninggalkan lapangan dan menuju masjid.

Benar saja, sampai di Masjid Alkautsar...semua genting limas jatuh berserakan, speaker, kubah terlepas.  Innalillahi wa inna ilaihi raajiun...

"Gimana anak-anak semua ada?" tanyaku pada sebagian santri

"Alhamdulillah, Bu ada semua."

"Ada yang tuka?"

"Tidak Bu."

"Tadi ada nggak yang tidur di dalam masjid?"

'Ada Bu, Faqih sama Andika.  Mereka tidur di pinggir bukan di tengah.  Tidurnya pules banget sampai nggak sadar ada yang runtuh."

"Masya Alloh, kok bisa?"

Pikirku, ini bagian dari pertolongan Alloh SWT, kalau, begitu ada goncangan terbangun mungkin saat limas runtuh, anak itu ada di tengah masjid. Qadarulloh, mereka selamat. Alhamdulillah.

Oh Ma'had dan Masjid yang kucintai kapankah uluran tangan para dermawan akan menyapamu.  Sementara aku hanya sebatas ini kesanggupanku. Rabb, maafkan aku atas kelemahan daya upayaku



























































Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Ini Kudengar Banyak Ramalan

JANGAN BIARKAN GEMPA MERENGGUT CERIAMU (DI TEEJAY TRAUMA ITU TERTANGGALKAN)